Buku ini lahir dari kegelisahan yang telah lama saya rasakan sebagai seorang praktisi pendidikan—sebuah kegelisahan tentang bagaimana ruang-ruang kelas kita, khususnya di madrasah, kerap kehilangan sinarnya. Padahal, di balik meja guru itu duduk seseorang yang seharusnya menjadi sumber terang, yaitu Guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
Mutu kehadiran guru sebagai pribadi yang utuh. Guru yang bukan hanya mengajar, tapi juga menghidupkan, bukan sekadar menyampaikan, tapi juga menggetarkan. Dari sanalah benih buku ini tumbuh sebagai ikhtiar kecil untuk menghadirkan kembali makna spiritual, filosofis, dan praksis dalam pembelajaran PAI.
Penulis mengajak pembaca untuk menyelami ulang warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, khususnya falsafah Tringo (Ngerti, Ngrasa, Nglakoni) sebuah konsep mendalam yang tidak hanya memuat dimensi kognitif, tetapi juga afektif dan aksiologis. Di saat yang sama, saya juga menyuguhkan pendekatan pendidikan kontemporer seperti heutagogi, efikasi diri, dan spiritualitas guru. Semua itu saya padukan dalam narasi tentang bagaimana guru PAI seharusnya menjadi “cahaya” yang hidup, menyala dari dalam, dan menulari sekitar