Buku EKOPESANTREN: Implementasi Maqāṣid al-Bī’ah di Gontor, hadir dari keprihatinan sekaligus optimisme terhadap situasi ekologis kontemporer yang semakin kompleks. Di tengah berbagai kerusakan lingkungan—pencemaran udara, krisis air bersih, deforestasi, dan perubahan iklim global—masih terdapat sumber nilai dan kebijaksanaan yang dapat menjadi solusi, yaitu ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah, serta diperkaya oleh tradisi intelektual para ulama melalui konsep maqāṣid al-sharī‘ah.
Buku ini berupaya menggali bagaimana prinsip-prinsip syariat Islam, khususnya maqāṣid al-bī’ah (tujuan syariat dalam menjaga lingkungan), dapat diimplementasikan secara nyata dalam konteks kelembagaan pendidikan Islam seperti pesantren. Selain menguraikan teori, buku ini juga menampilkan praktik ekologis di Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai model ekopesantren.
Buku ini dibagi dalam beberapa bagian, bagian pertama menguraikan dasar teologis ekologi Islam, di mana krisis lingkungan dipahami bukan hanya sebagai krisis ekologis, tetapi juga krisis maqāṣid—yakni kegagalan manusia dalam menjalankan tujuan syariat. Bagian kedua mengulas hubungan antara ekologi dan tata ruang pesantren. Lingkungan fisik pesantren bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga ruang spiritual yang membentuk kepribadian santri. Pada bagian ketiga menghadirkan pembahasan mendalam tentang konsep ḥifẓ al-bī’ah dalam perspektif dua tokoh maqāṣid kontemporer: ‘Abd al-Majīd al-Najjār dan Yūsuf al-Qarḍāwī. Al-Najjār menempatkan ḥifẓ al-bī’ah sebagai maqṣad independen yang sejajar dengan lima tujuan syariat klasik (al-ḍarūriyyāt al-khams). Sementara al-Qarḍāwī melihat penjagaan lingkungan sebagai prasyarat terlaksananya maqāṣid lain—agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Bagian akhir buku ini menggambarkan implementasi nyata nilai-nilai tersebut di Pondok Modern Darussalam Gontor. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang telah berdiri sejak 1926, Gontor tidak hanya dikenal karena sistem pendidikannya yang integral dan mandiri, tetapi juga karena kemampuannya menjaga harmoni antara manusia, ilmu, dan lingkungan.
Melalui pendekatan ini, pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga laboratorium ekologi Islam—tempat santri belajar tentang kesederhanaan, kebersihan, dan tanggung jawab terhadap bumi.